Buku Panglima Tani Moeldoko: Anak Dusun Jadi Negarawan

0
1842
promo-buku-panglima-tani

HKTI – Anak dusun yang berkarier cemerlang. Itulah julukan yang pas bagi Jenderal TNI (Purn) Dr. H. Moeldoko. Hanya tiga bulan menjabat Kepala Staf TNI AD (Kasad) sejak 22 Mei 2013, pria lulusan terbaik Akabri 1981 itu melejit mencapai puncak menjadi Panglima TNI. Sejak kecil pria kelahiran Kediri, Jawa Timur, 8 Juli 1957 itu sudah bercita-cita menjadi tentara. Maka ketika lulus SMA ia pun kemudian masuk Akabri.

Setelah lulus kariernya melejit sejak menjabat Kasdam Jaya (2008). Bahkan pada 2010, dia mengalami tiga kali rotasi jabatan dan kenaikan pangkat mulai dari Pangdiv 1/Kostrad (Juni-Juli 2010), menjadi Pangdam XII/Tanjungpura (Juli-Oktober 2010) dan Pangdam III/Siliwangi (Oktober 2010-Agustus 2011).

Tak sampai dua bulan berikutnya, Moeldoko naik pangkat menjadi Letnan Jenderal dengan jabatan Wakil Gubernur Lemhannas. Kemudian menjadi Wakasad (Februari 2013) dan naik lagi jadi Kasad pada 22 Mei 2013 dengan pangkat bintang empat (jenderal). Lalu, hanya tiga bulan berikutnya setelah menjabat Kasad, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkannya sebagai calon tunggal Panglima TNI untuk kemudian mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di Komisi I DPR-RI.

Saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan dalam Rapat Komisi I DPR, pada  21 Agustus 2013, dia dengan cerdas dan tangkas menjelaskan visi dan misinya, serta menjawab berbagai pertanyaan anggota Komisi I dengan cekatan, sehingga seringkali mendapat applaus, tepuk tangan, dari para anggota Komisi I DPR.

Akhirnya, dengan suara bulat (aklamasi) semua (9) Fraksi di Komisi I menyetujui Jenderal TNI Moeldoko jadi Panglima TNI. Presiden SBY kemudian melantikmya menjadi Panglima TNI pada 30 Agustus 2013. Pada saat uji kelayakan dan kepatutan di Komisi I DPR tersebut, Jenderal Moeldoko mengatakan: “Sikap saya sangat jelas, tegas, dan tidak kenal kompromi dalam menjaga kedaulatan NKRI. Saya Jenderal TNI Moeldoko siap memimpin TNI.”

Moeldoko lahir dari keluarga miskin sehingga sejak kecil terbiasa kerja keras dan berjuang. Dulu, orang tuanya serba kekurangan untuk membiayai anak-anaknya yang cukup banyak. Pendapatan orang tuanya pun tak menentu hingga membuat hidup keluarga ini seperti terjebak dalam rimba kemiskinan.

Kesusahan hidup Moeldoko adalah nyata. Ia kerap kesulitan jika ingin memakan nasi beserta lauk pauk yang cukup kala masih kecil. “Sering saya ambil ubi dari kebon sebelah (rumah) dulu,” katanya menceritakan bagaimana ia harus mengatasi rasa lapar.

Sebagai anak langgar, dalam hidup yang serba prihatin tersebut Moeldoko menghadapinya dengan lebih banyak mendekatkan diri kepada yang maha kuasa. Ia sering bertirakat dengan melaksanakan puasa sunah setiap Senin dan Kamis. Hal itu terus dilakukannya secara rutin walau pun sambil membantu kakaknya mengangkat batu dang mengangkut pasir dari sungai.

Walaupun serba kekurangan, orang tuanya berharap anak-anaknya jadi orang berguna. Moeldoko kecil bisa dibilang termasuk anak yang cekatan dan pekerja keras. Bahkan, sejak kecil ia sudah bekerja mengangkut batu dan pasir dari kali setiap pulang sekolah. Oleh karena itu Moeldoko tak pernah berhenti belajar. Selain sering mengikuti pendidikan kemiliteran di lingkungan TNI termasuk Lemhannas, Moeldoko juga terus menimba ilmu di dunia pendidikan umum. Itulah yang mengantarnya meraih gelar doktor ilmu administrasi pemerintahan dari Universitas Indonesia. Sejak itu pada namanya selalu disematkan gelar Dr. Moeldoko.

1 2

Leave a reply

two + seven =