Ketua HKTI Jember; Alih Fungsi Lahan Pertanian Produktif ke Perumahan Ancam Pangan Nasional

0
84
Dua tokoh petani Jember, Moh. Sholeh dan Jumantoro m, saat menggelar Podcast, di Sekretariat Forum Wartawan Lintas Media Jember. Foto by : istimewa.
sumber berita : https://www.majalah-gempur.com/2023/06/ketua-hkti-jember-alih-fungsi-lahan.html

Jember, MAJALAH-GEMPUR.Com. Maraknya Alih Fungsi Lahan Pertanian Produktif menjadi kawasan Perumahan di Jember, Jawa timur dikhwatrirkan akan mengancam swasembada Pangan Naasional

Lahan pertanian yang kian menyempit itu jelas akan berdampak terhadap penurunan produktivitas pertanian. Untuk itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember perlu segera turun tangan, Pasalnya Jika hal itu dibiarkan maka suatu saat tidak menutup Indonesia akan mengalami kekurangan pangan.

“Kita tahu Jatim kan lumbung beras nasioanal, salah-satu penghasil terbesar itu Jember, jika lahan terus berkurang. Ini mengancam swasembada pangan nasional” kata Ketua Himpunan Kerukunan Tani  Indonesia (HKTI) Jember, Muhammad Sholeh saat podcast di kantor FWLM, Selasa (27/7/2023)

Pria yang juga Kepala Desa (Kades) Lojejer itu menyayangkan terus menjamur pembangunan perumahan di atas lahan pertanian produktif. “Sebenarnya kita tidak alergi kepada pengembang properti, namun jangan menggunakan lahan pertanian  produktif”, harapnya.

Untuk itu Pemkab diminta tidak mudah memberi izin. “Kalau perlu  bentuk tim yang melibatkan pemerintah, akademisi, ATR BPN  dan organisasi petani “Sebagai payung hukum, Perda Rencana Tata Ruang Wilayan (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) harus segera diselesaikan” pungkasnya.

Hal senada disampaikan petani, Jumantoro, bahkan menurutnya, alih fungsi lahan ini sudah sangat memprihatinkan, pasalnya tidak hanya lahan pertanian produktif yang ada di wilayah perkotaan saja, seperti di kecamatan Sumbersari, Kaliwates dan Patrang, tetapi sudah menjamur hingga ke desa-desa.

Disamping alih fungsi lahan, yang berdampak menurunnya hasil panen, kata Jumantoro adalah persoalan ketersediaan pupuk, pasalnya kandungan unsur hara tanah sudah menurun, kerusakan tanah akibat pupuk  organik tidak bisa serta-merta dihentikan dan langsung beralih ke puluk organik.

“Jadi petani masih sangat tergantung pupuk anorganik atau pupuk kimia, masih butuh proses untuk beralih ke pupuk organik, dan perlu sosialisasi besar-besaran dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, akademisi maupun organisai petani” jelasnya.

Yang  terakhir, menurunya hasil pertanian yaitu kurangnya tenaga kerja, karena generasi milenial engan bertani, mungkin karena kurang menjanjikan, mereka memilih mendirikan kafe atau kerja di luar negeri. jika generasi milenial enggan bertani, lambat laun ketahanan pangan akan hancur.

“Agar generasi milenial seneng bertani kita harus bersinergi, melakukan penyuluhan, pendidikan dan pelatihan. HKTI tidak bisa sendiri, Pemerintah bersama-sama  akademisi juga harus ikut mengajak generasi  milenial di Jember bahwa bertani itu menguntungkan,” tukasnya. (reros).

Leave a reply

15 − 8 =